PTK BAB II

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1            Kelangkaan

2.1.1     Pengertian kelangkaan ( Scarcity )

Kelangkaan adalah suatu keadaan saat manusia ingin mengkonsumsi jauh lebih banyak dari apa yang di produksi atau suatu keadaan saat apa yang diinginkan manusia jauh lebih banyak dari apa yang tersedia.

2.1.2   Kelangkaan faktor-faktor produksi ( sumber daya ekonomi )

1. Kelangkaan Sumber Daya Alam / SDA.

Sumber Daya Alam Terdiri Atas sumber daya alam yang dapat di perbaharui dan sumber daya alam yang tidak  dapat di perbaharui.kedua sumber daya alam tersebut jika di manfaatkan secara terus menerus,persediaannya menjadi relatif terbatas.keterbatasan inilah yang menjadi penyebab terjadinya kelangkaan.

2. Kelangkaan Sumber Daya Modal

Manusia dihadapkan pada sumber daya modal yang terbatas, baik modal dalam arti barang-barang modal maupun modal dalam arti uang (financial).

3       Kelangkaan Sumber Daya Manusia

Sumber daya Manusia juga mengalami kelangkaan .Tentu saja sumber daya Manusia yang dianggap langka adalah sumber daya Manusia yang berkualitas.

3.1.3         Kelangkaan barang dan jasa

Untuk memperoleh barang yang langka diperlukan pengorbanan.semakin langka suatu barang,semakin besar pengorbanan yang di perlukan.Misalnya,mutiara sangat sedikit jumlahnya sehingga untuk mendapatkannya

5

                                                                          6

diperlukan pengorbanan yang begitu besar .

Atas dasar kelangkaan itu,barang terbagi atas barang langka (barang ekonomi) dan barang tidak langka (Barang bebas ). Barang Ekonomi adalah barang yang untuk memperolehnya diperlukan pengorbanan.Adapun barang bebas adalah barang yang diperoleh dengan tidak memerlukan pengorbanan.

3.2            Contectual Teaching and Learning ( CTL ).

Pengajaran dan pembelajaran kontektual atau contectual teaching and learning merupakan suatu konsepsi yang membantu guru yang mengaitkan konten atau pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pegetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga , warga negara dan tenaga kerja ( AS Washington2001 ) pembelajaran kontektual bukan merupakan kosep baru .

Penerapan pembelajaran kontektual dikelas-kelas di Amerika pertama-tama diusulkan oleh John Doway pada tahun 1916 . Dowey mengusulkan suatu kurikulum dan metodelogi pengajaran yang dikaitkan dengan minat dan pengalaman belajar siswa.

Pengajaran kontektual adalah pengajaran yang memungkinkan siswa-siswa TK sampai SMA untuk menguatkan , memperluas dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan akademik mereka dalam berbagai macam tatanan dalam sekolah dan luar sekolah agara dapat memecahkan masalah-masalah dunia nyata atau masalah-masalah yang disimulasikan ( Universitas of washington. 2001 )

CTL menekankan pada berfikir tingkat lebih tinggi , transper pengetahuan tingkat disiplin, serta pengumpulan penganalisasian dan peresentasian, inpormasi dan data dari berbagai sumber dan pandangan .

7

Implementasi pengajara dan pembelajaran mengacu dan berpusat pada siswa oleh sebab itu bagaimana seorang guru merancang dan menyususn pengajaran yang melibatkan banyak pertimbagan tidak hanya pertimbanan apa yang akan dipelajari siswa tetapi juga bagaimana siswa menggunakan apa yang dipelajarinya

Jadi proses pengajaran mencakup pemilihan penyususnan, dan cara menyampaikan informasi dalam suati lingungan yang sesuai dengan cara siswa berineraksi dengan informasi tersebut ( Depdiknas, Sains, 45:3) . Sadiman , 1990 menyatakan media merupakan perantara atau pengantar pesan dari pengirim pesan ke penerima pesan .

Media adalah alat bantu yang dapat memberikan pengalaman kongrit , meningkatkan motivasi belajar, serta mempertinggi daya serap dan prestasi belajar siswa dengan demikian setiap guru harus mempunyai kemampuan memilih dan menggunakan alat bantu yang disesuaikan dengan :

  1. Tujuan pembelajaran
  2. Materi pembelajaran
  3. Ketersediaan alat yang diperlukan
  4. Tingkat kemampuan siswa
  5. Metode yang digunakan
  6. Situasi pengajaran / pembelajaran.

Keguanaan media pembelajaran dalam proses belajar – mengajar sebagai berikut ( Depdiknas sains, 43 : 14 ) :

1)    Memperjelas penyajian pesan agar tidak bersifat verbalistis ( dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka ).

2)    Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indra

3)    Menimbulkan kegairahan belajar

4)    Memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan dan kenyataan

8

5)    Memungkinkan anak didik belajar sendiri menurut kemampuan dan minatnya

3.3            Motivasi belajar siswa

Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif mantap berkat adanya latihan dan pengalaman .

Belajar sesungguhnya dilakukan oleh manusia seumur hidup, kapan saja dimana saja, baik disekolah maupun dirumah dalam waktu yang telah ditentukan.

Namun satu hal yang pasti bahwa belajar yang dilakukan oleh manusia senantiasa dilandasi oleh itikad dan maksud tertentu.

Motivasi belajar pada siswa adalah hal yang penting didalam proses belajar mengajar artinya berfungsi mendorong dan mengarahkan siswa pada kegiatan belajar . Oleh karena itu prinsip pembelajaran melalui LKS bergambar sangat memotivasi siswa untuk mengenal  apa isi gambar / materi ajar tersebut .

Adapun cara memotivasi belajar siswa antara lain kebermaknaan menggunakan model pembelajaran komunikasi terbuka, latihan atau praktek yang bermanfa’at, kondisi kelas yang menyenangkan dan mengevaluasi ( Hamalik 1990 )

2.4.         Hipotesis tindakan

Berdasarkan kerangka teoritik diatas maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah dengan menggunakan model pembelajaran kerja kelompok  tipe STAD dengan LKS bergambar dapat meningkatkan pretasi / hasil belajar siswa mengenai kelangkaan ( scarcity ).

2.5.         Evaluasi tindakan

9

Keberhasilan tindakan dalam penelitian ini akan dievaluasi dari beberpa asfek seperti, motivasi, aktivitas siswa, dan hasil belajar Aktivitas siswa diambil sebanyak dua kali pada sa’at berlangsungnya pembelajaran kelompok dengan menggunakan lembar observasi ( terlampir )

Dan untuk mengetahui minat dan motivasi dapat diketahui dari angket        ( terlampir )

Sedangkan hasil pembelajaran siswa dilakukan pada akhir tindakan

2.6            Refleksi

Hasil yang didapatkan dalam tahap observasi dikumpulkan dan dianalisa dalam tahap ini.

Dari observasi tersebut guru dapat menyeleksi diri dengan melihat data hasil observasi , apakah kegiatan yang dilakukan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengenal faktor-faktor yang menyebabkan kelangkaan ( scarcity ) kemudian dipergunakan untuk merencanakan kegiatan pada siklus berikutnya .

-0-

Bila anda berkenan untuk sodakoh kirimlah pulsa ke nomor modem : 02657200071

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s